Aktivis NU Luar Negeri Satukan Jejaring Global, Jangan Biarkan Ekonomi Indonesia Dinikmati Asing!

JOMBANG (Realita)— Jejaring aktivis Nahdlatul Ulama (NU) di berbagai negara mulai disatukan melalui Halaqah Aktivis NU Luar Negeri. Forum ini disiapkan bukan sekadar menjadi ruang silaturahmi, tetapi juga wadah strategis untuk mempertemukan santri, alumni, akademisi, perguruan tinggi, aktivis, organisasi kemasyarakatan hingga pemerintah.

Halaqah tersebut diharapkan mampu melahirkan gagasan sekaligus solusi konkret bagi berbagai persoalan bangsa. Para alumni dan aktivis NU yang memiliki pengalaman serta jaringan internasional didorong untuk tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi ikut berkontribusi melalui kapasitas, keahlian, jaringan, institusi maupun perusahaan masing-masing.

“Alhamdulillah banyak alumni yang berminat, sangat responsif dan sangat aktif. Yang kita harapkan adalah menemukan atau mendapatkan solusi konkret dari apa yang selama ini kita diskusikan, dari apa yang kita lakukan dalam sekolah,” kata KH Abdul Latif Malik, Jumat (28/8/).

Menurutnya, kekuatan utama halaqah tersebut berada pada jejaring para alumni dan aktivis NU yang tersebar di berbagai negara. Mereka memiliki pengalaman akademik maupun profesional sekaligus komunikasi dengan berbagai perguruan tinggi dan organisasi.

Jejaring dengan NU juga terus diperkuat melalui komunikasi dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sinergi diharapkan berkembang bersama perguruan tinggi dan organisasi kemasyarakatan lainnya, termasuk Muhammadiyah.

“Ini banyak kampus juga. Mereka para pakar, punya kepedulian yang sangat Indonesia,” ujarnya.

Dari Jejaring Global Menuju Gerakan Nyata

Halaqah Aktivis NU Luar Negeri tidak ingin berhenti pada forum diskusi. Gagasan yang lahir diharapkan diterjemahkan menjadi gerakan dan program nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Perguruan tinggi menjadi ruang pengembangan ilmu dan gagasan. Sementara jaringan aktivis dan organisasi menjadi kekuatan untuk menerjemahkan gagasan tersebut dalam bentuk gerakan di lapangan.

“Secara akademik di PBNU, tapi secara praktisnya di kampus, kampus semua,” katanya.

Para aktivis dan alumni yang pernah belajar, bekerja maupun beraktivitas di luar negeri memiliki modal penting berupa pengalaman dan jaringan internasional. Modal tersebut dinilai harus dikembalikan untuk memperkuat Indonesia.

Jangan Sampai Indonesia Hanya Jadi Pasar

Dalam forum tersebut turut hadir Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan atau Babe Haikal, yang menekankan pentingnya membangun kemandirian ekonomi nasional.

Advertorial

Menurutnya, jejaring internasional harus mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian Indonesia. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi pasar, sementara nilai ekonomi dari berbagai aktivitas justru lebih banyak dinikmati pihak asing.

Ia mencontohkan produk dari Swiss yang masuk ke Indonesia, namun proses pemeriksaannya dilakukan pihak asing.
“Barang dari Swiss, kemudian yang periksa orang India. Karena pemilik LAL ini orang India,” ujarnya.

Babe Haikal menegaskan, persoalannya bukan sekadar mengenai siapa yang melakukan pemeriksaan. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai ekonomi dari aktivitas tersebut dapat dinikmati tenaga ahli dan masyarakat Indonesia.

“Uang yang ratusan miliar itu larinya ke orang India ini, dan barangnya masuk ke kita. Kan konyol. Biar masuknya ke orang kita,” tegasnya.

Karena itu, Indonesia harus memiliki kekuatan sendiri, mulai dari sumber daya manusia, keahlian, teknologi hingga jaringan internasional.

“Biar dari Indonesia itu Indonesia,” tandasnya.

Aktivis NU Diminta Bawa Pulang Manfaat Jejaring Dunia

Gagasan tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar keuntungan materi. Lebih jauh, jejaring global para aktivis NU diharapkan menjadi bagian dari gerakan membangun kemandirian bangsa.
Pengalaman, ilmu pengetahuan, keahlian dan jaringan yang diperoleh di luar negeri harus mampu memberikan manfaat ketika dibawa kembali ke tanah air.

Halaqah Aktivis NU Luar Negeri pun diharapkan menjadi titik temu antara jejaring global NU dengan dunia akademik, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan dan berbagai elemen bangsa.

Dari ruang inilah diharapkan lahir gagasan dan gerakan nyata untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan global bukan sekadar menjadi pasar, tetapi menjadi bangsa yang mampu mengelola dan menikmati sendiri potensi yang dimilikinya. (din)

Editor : Redaksi

Berita Terbaru

PSI Tegas Tolak Budi Arie

JAKARTA (Realita)- Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menegaskan tidak akan menerima Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi sebagai kader. Penolakan tersebut …