Jumlah Korban Dugaan Pencabulan di Ngadiluwih Bertambah, DP2KBP3A Lakukan Pendampingan Intensif

KEDIRI (Realita) - Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Kediri mulai melakukan pendampingan terhadap anak-anak korban dugaan pencabulan oleh seorang tokoh agama di Kecamatan Ngadiluwih, Senin (18/5/2026).

Pendampingan dilakukan dengan fokus utama pada pemulihan kondisi psikologis anak korban. Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP2KBP3A, Intan Candra Dewi, mengatakan pihaknya masih melakukan asesmen awal sehingga belum dapat menyampaikan detail kondisi para korban.

 

“Ini sifatnya masih pendampingan awal. Nanti kami bekerja sama dengan teman-teman dari puskesmas juga. Kita asesmen dulu, jadi fokusnya ke pemulihan,” ujarnya saat ditemui awak media.

 

Dalam proses pendampingan tersebut, DP2KBP3A turut melibatkan psikolog klinis dan tenaga kesehatan dari puskesmas setempat guna memastikan kondisi anak-anak dapat dipantau secara menyeluruh.

 

“Karena korbannya anak-anak, kami fokus mendampingi dari sisi psikologis untuk penyembuhan traumanya,” imbuh Intan.

 

Sebelumnya, seorang pria berinisial HJ (63) yang diketahui merupakan penasihat takmir masjid setempat diamankan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Kediri pada Sabtu (17/5) malam atas dugaan tindak pencabulan terhadap anak.

 

Ketua RT setempat, Mujiarto, menjelaskan kasus tersebut pertama kali terungkap setelah salah satu anak mengadu kepada orang tuanya. Laporan itu kemudian diteruskan kepada perangkat lingkungan hingga dilakukan mediasi dengan terduga pelaku.

 

“Itu awalnya ada empat anak yang mengadu ke orang tuanya, lalu orang tua melapor ke saya. Setelah itu kami koordinasi dengan perangkat desa dan menemui yang bersangkutan,” jelasnya.

Namun, mediasi yang dilakukan tidak membuahkan hasil. Bahkan jumlah korban yang melapor terus bertambah. Pada mediasi kedua, terduga pelaku disebut tidak hadir sehingga para orang tua memilih melanjutkan kasus tersebut ke pihak berwenang.

“Karena mediasi kedua tidak hadir, akhirnya orang tua korban melanjutkan laporan hingga kemudian ditangani kepolisian,” tambah Mujiarto.

Sementara itu, Kasi Kesejahteraan desa setempat, Arik, mengungkapkan jumlah korban sementara bertambah dari sebelumnya 10 anak menjadi 13 anak. Meski demikian, pendalaman dan tracing masih terus dilakukan.

“Sementara ada 13 anak, tapi tracing masih berjalan dan belum dilakukan secara mendalam,” terangnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan aksi pencabulan dilakukan saat anak-anak yang mengikuti pengajian sedang beristirahat. Terduga pelaku diketahui kerap mengisi kajian di salah satu masjid dekat tempat tinggalnya.

Kasat Reskrim Polres Kediri AKP Joshua Peter Krisnawan menyatakan proses hukum masih berlangsung dan pihaknya masih melakukan pendalaman lebih lanjut terkait kasus tersebut.

“Tunggu update-nya ya,” singkatnya.

Pihak terkait menegaskan perlindungan identitas korban serta pemulihan kondisi psikologis anak menjadi prioritas utama dalam penanganan kasus ini.nia

Editor : Redaksi

Berita Terbaru