MBG Jangan Sampai Jadi Makan Beracun Gratis atau Makan Beresiko Global

LAMONGAN (Realita) - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejatinya adalah ide yang mulia. Anak-anak sekolah makan enak tanpa harus mikir uang jajan, perut kenyang, otak cemerlang, dan guru pun tenang. Namun di lapangan, seperti biasa, niat baik kadang berubah jadi kisah lucu atau malah kisah lucu yang menyedihkan.

Bayangkan saja, nasi kotak MBG di beberapa sekolah tampil seperti ujian nasional menegangkan dan penuh kejutan. Ada yang menunya ayam goreng tapi rasa dan bentuknya lebih mirip ayam yang pernah punya cita-cita jadi tempe. Ada pula lauk ikan yang aromanya bisa membangunkan leluhur dari kubur. Kalau sudah begini, anak-anak bukannya tambah sehat, malah jadi ahli strategi bagaimana caranya menyembunyikan lauk di bawah nasi agar tidak dicium guru. Keracunan massal bahkan terus menjadi pengisi beranda harian media.

Karena itu, desas-desus pun muncul, katanya program MBG akan dievaluasi secara menyeluruh. Maksudnya baik untuk memperbaiki kualitas gizi, rasa, dan cita-cita mulia bangsa. Tapi entah kenapa, kabar evaluasi sering kali diartikan oleh pejabat sebagai “ayo kita rapat sambil makan siang mewah di hotel, biar tahu rasa makan bergizi yang sesungguhnya.”

Sebagian pihak bahkan usul agar kata “gratis”-nya dihapus. Katanya, supaya anak-anak tidak merasa manja dan melemah.

“Kalau semua serba gratis, nanti semangat berjuang hilang,” begitu alasannya. Logikanya agak ajaib, tapi ya begitulah gaya berpikir nasional kita, kalau ada yang gratis, pasti dianggap mencurigakan.

Tapi mungkin ada benarnya juga. Kalau Makan Bergizi Gratis ini tidak diawasi, bukan tidak mungkin berubah jadi Makan Beracun Gratis. Singkatannya tetap MBG, tapi efeknya beda jauh.

Bayangkan anak-anak sekelas mendadak pawai ke UKS gara-gara lauknya expired serentak. Guru panik, kepala sekolah stres, dan pemasok katering tiba-tiba pindah alamat.

Maka solusinya sederhana, bukan gratisnya yang dihapus, tapi niatnya yang diperbaiki. Jangan cuma “bergizi” di brosur, tapi benar-benar bergizi di piring. Jangan cuma semangat di spanduk, tapi lemas di dapur. Kalau mau adil, para pejabat yang rapat soal MBG wajib juga makan menu yang sama dengan anak SD biar tahu bedanya ayam kampus dan ayam karet.

Jadi, sebelum program ini berubah nama jadi “Makan Berisiko Global,” mari kita dukung evaluasi yang jujur dan penuh pengawasan. Sebab, masa depan bangsa memang butuh gizi, tapi yang paling penting jangan sampai anak-anak kita tumbuh dengan semboyan baru “Kami kenyang, tapi curiga.”

Penulis : Mahrus Ali

Editor : Redaksi

Berita Terbaru

Pupuk Subsidi di Jombang, Ruwet

JOMBANG - Sektor pertanian Kabupaten Jombang kembali dihantam persoalan klasik yang seolah menjadi siklus tahunan tanpa solusi permanen.  Distribusi pupuk …

Mahasiswa UNESA Bikin Bangga Indonesia

SURABAYA (Realita)  —Atlet dan pelatih Indonesia peraih medali SEA Games 2025, termasuk dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mendapatkan bonus yang di …