Riset Karhutla Diperkuat, Kemendiktisaintek Siapkan Pendanaan dan Libatkan Mahasiswa

JEMBER (Realita) – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mendorong penguatan riset untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Penelitian perguruan tinggi akan diarahkan untuk mengungkap akar persoalan kebakaran sekaligus merumuskan langkah pencegahan yang lebih efektif.

Sekretaris Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Junaidi Khotib, mengatakan kebakaran hutan dan lahan perlu ditangani melalui pendekatan berbasis riset. Menurutnya, perubahan cuaca akibat El Nino yang memicu kondisi lebih kering dan memperpanjang musim kemarau dapat meningkatkan risiko kebakaran.

Selain faktor cuaca, dugaan pembakaran lahan juga menjadi persoalan yang perlu ditangani. Karena itu, riset diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab utama kebakaran sekaligus menentukan solusi yang sesuai dengan kondisi di setiap daerah.

“Kebencanaan ini sebenarnya menjadi salah satu peta jalan di dalam penelitian. Itu yang memang harus menjadi bagian yang kita prioritaskan untuk mendapatkan akar masalahnya dan penyelesaiannya,” kata Junaidi, usai menjadi pemateri dalam Workshop Kepemimpinan, di Institut Teknologi dan Sains Mandala Jember, Rabu (21/10/2026).

Salah satu fokus riset yang telah dilakukan adalah pengelolaan lahan gambut. Junaidi menyebut sekitar 32 ahli gambut di Indonesia telah berkumpul untuk membahas persoalan tersebut dan menghasilkan sejumlah rekomendasi.

Hasil kajian para ahli itu kemudian diserahkan kepada pihak terkait sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan langkah strategis penanganan gambut. Junaidi menjelaskan, rekomendasi tersebut disusun melalui diskusi pakar dan lokakarya.

Di sisi lain, Kemendiktisaintek membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk mengajukan penelitian di bidang kebencanaan, termasuk karhutla. Usulan penelitian akan melalui proses penilaian sebelum memperoleh pendanaan.

Junaidi menyebut Kemendiktisaintek mendukung sekitar 17.000 penelitian setiap tahun. Namun, ia tidak merinci jumlah penelitian maupun perguruan tinggi yang secara khusus terlibat dalam penanganan karhutla.

Data penelitian, jumlah kampus, hingga provinsi yang terlibat dapat diakses melalui laman resmi riset dan pengembangan Kemendiktisaintek di risbang.kemdikti.saintek.go.id.

Ia memastikan pembiayaan penelitian terkait kebencanaan berpeluang ditingkatkan. Menurutnya, kebutuhan tersebut penting mengingat luasnya wilayah Indonesia yang memiliki risiko bencana, termasuk kebakaran hutan dan lahan.

Selain melalui penelitian, Kemendiktisaintek juga mendorong keterlibatan mahasiswa dalam membantu masyarakat di daerah rawan bencana. Program tersebut diarahkan pada pendampingan masyarakat dan perubahan perilaku agar upaya pencegahan bencana dapat berjalan lebih efektif.

Junaidi menjelaskan, program pelibatan mahasiswa tersebut berbeda dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN). KKN tematik merupakan program tersendiri yang diselenggarakan perguruan tinggi berdasarkan kebutuhan daerah, sedangkan penelitian kebencanaan berfokus pada pengungkapan akar masalah dan penyusunan solusi.

Melalui penguatan riset dan keterlibatan mahasiswa, Kemendiktisaintek berharap penanganan karhutla tidak hanya berorientasi pada pemadaman ketika kebakaran terjadi, tetapi juga menyasar penyebab utama dan memperkuat pencegahan sejak dini.

Editor : Redaksi

Berita Terbaru